oleh

Daan Mogot dan Ch Taulu Diusul Jadi Pahlawan Nasional

Manado, KOMENTAR – Setelah Alexander Andries Maramis mendapat Gelar Pahlawan Nasional, kini muncul nama Daan Mogot dan Ch Taulu dalam daftar usulan calon Pahlawan Nasional. Kedua nama pejuang kemerdekaan itu diusulkan dalam sebuah seminar yang digelar Dinas Sosial Provinsi Sulut, di Hotel Travello, Manado, pada Jumat (15/11) pekan lalu.

Nama Daan Mogot diusulkan oleh salah satu pengusul dalam seminar, Karimun Pangaribuan. Sedangkan nama Ch Taulu diusulkan oleh Alex John Ulaen, yang juga pengusul dalam seminar.
Dalam pemaparannya, Karimun Pangaribuan menjelaskan Daan Mogot adalah pejuang kemerdekaan yang merupakan mantan anggota dan pelatih PETA pada 1942-1945.

“Daan Mogot lahir di Manado 28 Desember 1928. Meninggal di Lengkong, Tangerang Selatan, Banten, 25 Januari 1946 pada usia 17 tahun. Anak dari Nicolaas Mogot dan Emilia Inkiriwang ini memiliki nama lengkap Elias Daniel Mogot. Ia anak kelima dari tujuh bersaudara. Saudara sepupunya antara lain kolonel Alex Kawilarang (Panglima Divisi Siliwangi serta Panglima Besar Permesta) dan Irjen Pol Gordon Mogot (mantan Kapolda Sulut),” ucap Karimun mengawali pemaparanya tentang riwayat Daan Mogot.

Lanjut Karimun, Daan Mogot bersama keluarga pindah ke Batavia (Jakarta) pada tahun 1939. Di sana, ayahnya (Nicolaas Mogot) yang sebelumnya pernah menjabat hakim besar Ratahan, diangkat menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat Hindia Belanda) sebelum menjadi kepala penjara.
Setelah Jepang merebut kekuasaan Belanda di Indonesia, pada 1942 Daan Mogot bergabung dengan PETA atau Tentara Pembela Tanah Air (kesatuan militer yang dibentuk Jepang di Indonesia saat masa pendudukan Jepang). Dia pernah ditugaskan di Bali sebagai pelatih PETA, sebelum kemudian dipindah ke Jawa.

Perang Dunia II yang berlangsung sejak 1939 hingga 1945 akhirnya dimenangkan Sekutu. Kekaisaran Jepang pun menyatakan menyerah pada tanggal 15 Agustus 1945, sehingga mengakhiri perang di Asia. Indonesia kemudian menyambut situasi ini dengan memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Setelah Ir soekarno dan Drs Mohammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, Daan Mogot bergabung dengan Barisan Keamanan Rakyat (BKR). Selanjutnya Daan Mogot dipercayakan sebagai komandan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dengan pangkat Mayor. Saat itu dia masih berusia 16 tahun. TKR adalah sebuah nama angkatan perang pertama yang dibentuk oleh Pemerintah Indonesia, setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

TKR dibentuk pada 5 Oktober 1945 dari hasil peningkatan fungsi BKR yang tentara intinya diambil dari bekas PETA. Berbekal pengalaman sebagai pelatih PETA, Daan Mogot bersama rekannya kemudian menggagas terbentuknya Akademi Militer untuk melatih para calon perwira TKR. Gagasan ini disambut Markas Besar Tentara di Jakarta sehingga berdiri lah Militaire Academies Tangerang (MAT). Daan Mogot sendiri ditunjuk sebagai direktur MAT, saat usianya baru 17 tahun.
Daan Mogot gugur di Hutan Lengkong, di bagian Selatan Tangerang, bersama pejuang lainnya dalam pertempuran melawan tentara Jepang, pada 25 Januari 1946. Pertempuran terjadi saat Daan Mogot bersama pejuang lainnya hendak melakukan pelucutan senjata terhadap tentara Jepang yang telah menyatakan menyerah pasca Perang Dunia II dimenangkan Sekutu.

Sebagai penghormatan terhadap jasa dan perjuangannya, Daan Mogot dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Taruna. TMP yang berlokasi di Jalan Daan Mogot No 1, Kota Tangerang ini, menjadi tempat peristirahatan terakhir Daan Mogot bersama 48 pahlawan lainnya yang sebagian besar merupakan korban Peristiwa Lengkong.
Selain makam, di tempat ini juga terdapat dua relief dan sebuah tugu. Dua relief masing-masing menceritakan suasana Akademi Militer dan Peristiwa Lengkong. Sementara, tugu yang berada di bagian depan makam bertuliskan nama-nama pahlawan yang dimakamkan. TMP Taruna selalu menjadi tempat upacara peringatan Peritiwa Lengkong, 25 Januari. “Nama Daan Mogot juga diabadikan sebagai salah satu nama jalan utama di Jakarta. Jalan utama yang menghubungkan Jakarta dengan Kota Tangerang,” pungkas Karimun mengakhiri pemaparannya.

Sementara itu, Alex John Ulaen dalam pemaparannya menjelaskan, Ch Taulu merupakan salah satu tokoh utama dalam Peristiwa heroik Merah Putih 14 Februari 1946, yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebab peristiwa perebutan tangsi militer Belanda di Teling, Manado, yang ditandai dengan menaikan bendera Merah Putih itu, mematahkan propaganda Belanda bahwa kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan Soekarno-Hatta hanya berlaku di Jawa dan Sumatera. “Ketika presiden soekarno mendengar peristiwa itu melalui siaran radio Brisbane Australia, beliau bersyukur dan memuji meski Minahasa ada di daerah terpencil, tapi memiliki putra putri ksatria pembela ibu pertiwi,” ujar Ulaen.

Lanjutnya, ada dua tokoh sentral dibalik Peristiwa heroik Merah Putih. Mereka adalah Ch Taulu yang berpangkat sersan KNIL kemudian diangkat menjadi Letkol, dan BW Lapian, seorang politisi dari sipil yang telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. “Pemilik nama lengkap Charles Choesoy Taulu ini lahir di Kawangkoan pada 28 Mei 1909, anak kedua dari pasangan Agustinus Rawis Taulu dan Maria Waney. Ch Taulu memiliki 13 bersaudara,” terang Ulaen.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulut dr Rinny Tamuntuan yang turut hadir dalam seminar tersebut, mengatakan bahwa Gubernur Olly Dondokambey SE dan Wagub Drs Steven OE Kandouw menyambut baik seminar ini, serta memberi apresiasi kepada penyelenggara maupun para pengusul. Menurutnya, hasil seminar ini masih harus melewati beberapa tahapan, yaitu pengkajian kepahlawanan, seminar nasional, dan sidang Tim Penilai Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD), sebelum diteruskan ke Tim Penilai Pengkaji Gelar Nasional. “Perlu diketahui bahwa Kemensos memiliki program pelestarian nilai-nilai kepahlawanan, keperintisan, dan kesetiakawanan sosial. Lewat program Ini pemerintah memfasilitasi usulan perorangan, keluarga, kelompok, organisasi, yayasan dan lainnya untuk mendapatkan gelar, tanda jasa dan tanda kehormatan. Program ini sejalan dengan program ODSK (Operasi Daerah Selesaikan Kemiskinan) yang mengusung misi terwujudnya Sulut berdikari dalam ekonomi, berdaulat dalam pemerintahan dan politik, serta berkepribadian dalam budaya,” pungkas Tamuntuan.(sbr)

Komentar

Terbaru