Kak Joune Ganda Terganjal TOT, Pemilihan Ketua Remaja Sinode GMIM Alot

Tondano, KOMENTAR- Pelaksanaan konsultasi rapat pemilihan calon Ketua Komisi Pelayanan Remaja (KPRS) Sinode GMIM di gedung Wale Ne Tou, Jumat (25/04) berlangsung alot. Hingga malam ini belum memutuskan siapa nama calon ketua terpilih.

Panitia telah memutuskan nama calon ketua yang berhak dipilih mengerucut pada dua nama yakni incumbent Michaela Paruntu dan Billy Lombok. Dua nama itu bersaing ketat merebut kursi ketua remaja Sinode GMIM lima tahun kedepan.

Sejumlah nama yang masuk dominasi calon justru memilih mundur tidak ikut bertarung meski memenuhi kriteria. Satu nama calon kuat Joune Ganda bahkan gugur tidak memenuhi syarat.

Agenda lima tahunan KPRS itu sebelumnya sempat hujan intrupsi. Sejumlah utusan aras jemaat dan wilayah mempertanyakan aturan panitia yang tidak memasukan nama Joune Ganda padahal sebelumnya masuk urutan teratas dalam nominasi calon ketua terpilih.
Panitia membacakan aturan gereja untuk pemilihan khususnya berkaitan dengan kriteria calon yang berhak diipilih.Oleh panitia, syarat calon dimuat dalam buku ketentuan yang diputuskan BPMS nomor 03 tahun 2021 tentang pemilihan di semua aras.

Beberapa poin penting kriteria calon ketua diantaranya harus dinominasikan dari wilayah, kemudian calon ketua harus berpengalaman minimal 1 tahun periode pelayanan sebagai pelayan khusus. Calon ketua juga harus memiliki pengalaman organisatoris yang tergambar dalam riwayat hidup. Poin penting lainya dalam kriteria itu, yakni bagi calon telah mengikuti Traning Of Trainers (ToT) dibuktikan dengan sertifikat. Syarat  ini yang menggagalkan Joune Ganda yang sebelumnya meraih 800 lebih sudara dalam dominasi calon. Bupati Minahasa Utara itu ternyata tidak mengantongi sertifikat ToT sebagai salah satu syarat utama.

Dari 39 nama masuk dominasi, hasil verifikasi diputuskan enam nama  memenuhi kriteria khusus sebagai calon yakni, Mikhaela Paruntu, Meksy Sahensolar, Ridel Monginsidi, Irwany Maky, Steven Moningka. Mereka pun berhak dipilih jadi calon ketua.

Hal ini mengundang reaksi dari para vooter yang jadi peserta utusan aras jemaat dan wilayah yang menggap syarat TOT bertentangan dengan tata gereja.
Frans Kanail Ketua Komisi Remaja Wilayah Manado Utara satu mempertanyakan syarat TOT yang ditetapkan panitia. Ia menganggap, dengan sertifikat itu, panitia membatasi peserta yang masuk dominasi untuk melayani.

“Jangan membatasi niat orang yang ingin melayani, ” ujarnya. “Kenapa panitia (pimpinan sidang) hanya membacakan buku keputusan dan tidak membacakan tata gereja. Karna ditata gereja tidak ada syarat sertifikat TOT. Pemilihan ini harus menegakan aturan tata gereja, ” tegas Meski Sahensolar.

Roby Moninimbar Sekertaris remaja wilayah Manado Timur Dua mempertanyakan syarat TOT baru diberlakukan seminggu sebelum pemilihan. “Ada apa ini? Jangan semangat melayani dihalangi dengan trik-trik¬† panitia terkait syarat calon, ” tegasnya.
Sementara Jemny Timbuleng, utusan Wilayah Bitung 12 meminta Panitia jangan cederai tata gereja dan pemilihan KPRS GMIM dengan adanya syarat TOT. “Kenapa syarat TOT berlaku di Sinode sedangkan pemilihan di tingkat wilayah tidak¬† diberlakukan.

“Jangan cederai pemilihan ini dengan kepentingan tertentu, “ujarnya.
Terkait syarat ini, menurut panitia, bahwa tata gereja yang ditetapkan tahun 2021 ada ruang yang mengatur soal kriteria calon termasuk syarat sertifikat TOT. Aturan aturan ini juga sudah keluar sejak April 2021 dan telah disosialisasikan ke aras jemaat.
Dengan demikian pemilihan tetap dilanjutkan.

Sebanyak 1770 peserta yang berhak memilih. Pemilihan bisa dilaksanakan minimal 2/3 dari peserta yang hadir. Sehingga dari angka 1770 yang hadir untuk bisa melaksanakan proses pemilihan harus dihadiri 780 orang pemilih dan yang teregistrasi hingga proses pemilihan tercatat 1005 peserta dengan demikian pelaksanaan pemilihan dianggap quorum. Panitia sendiri menetapkan mekanisme e-voting dalam pemilihan ketua KPRS.(bly)

 

Komentar