oleh

Wisata Demokrasi

Oleh: Stenly Kowaas

TENTU saja saya sangat bersyukur karena cukup beruntung mendapatkan kesempatan mengunjungi banyak tempat, baik di dalam maupun luar negeri. Beberapa di antaranya bahkan masuk dalam wish list saya, yang secara tak terduga bisa terwujud karena ‘bonus’ pekerjaan, baik saat aktif sebagai pekerja media maupun ketika menjadi bagian dari penyelenggara Pemilu di Kota Tomohon.

Pengalaman menyenangkan tersebut boleh dikata memberi saya privilege untuk membandingkan satu tempat dengan tempat lainnya, lebih spesifik lagi membandingkannya dengan Kota Tomohon.

Jika sudut pandangnya soal arsitektur kota, lebih khusus tentang bangunan-bangunan klasik dan bersejarah, Tomohon memang tidak se-glamour banyak kota lain di Indonesia, apalagi di belahan benua lainnya. Tapi memang tidak apple to apple jika menarik benang merah dari sejarah peradaban serta perjalanan panjang hadirnya arsitektur kota-kota lain tersebut.

Tapi bagaimana jika perbandingannya spesifik tentang keindahan alam? Kalau ini lain lagi ceritanya. Bagi saya, Kota Tomohon memiliki konfigurasi yang menakjubkan karena berbagai faktor. Landscape, cuaca dan budaya Tomohon adalah keindahan nyata yang menghadirkan perasaan menggetarkan bagi warga luar Sulut yang pernah datang di Kota Bunga. Aspek pentingnya lainnya, warga Tomohon lebih welcome terhadap wisatawan.

Okelah akan dianggap subjektif jika pujian itu secara verbal datang dari saya yang tinggal di Tomohon. Pernyataan orang luar Sulut tentu saja akan lebih fair untuk memberikan deskripsi yang objektif tentang Tomohon. Saya coba menyebutkan satu nama: Azrul Ananda. Mantan Pemimpin Redaksi Koran Jawa Post, saat ini Presiden Klub Persebaya Surabaya dan sekarang begitu terkenal di kalangan pesepeda karena aktif menggelar iven-iven gowes level premium di Indonesia.

Dan yang paling simetris, Azrul punya kapabilitas untuk berbicara soal-soal yang seperti ini karena cap imigrasi berbagai negara di paspornya sudah tak terhitung jumlahnya. Ia juga kemungkinan besar sudah pernah mampir di semua provinsi di Indonesia, baik saat menjadi wartawan maupun dalam kapasitasnya founder DBL, iven basket yang sedemikian terkenal di kalangan siswa se-Tanah Air. Jadi tidak diragukan lagi orang ini punya jejak rekam paripurna untuk dijadikan referensi.

Saat iven sepeda Sulut KOM akhir Juli lalu, Azrul tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya terkait keindahan alam Tomohon. “Saya berani bertaruh, sangat sulit mencari iven lain dengan pemandangan dan keramahan seperti di daerah ini,” ujarnya di video yang dirilis www.mainsepeda.com, saat pit stop di Danau Linow sembari menunjuk danau mungil tersebut. Ketika berada di Bukit Tetetana, ia juga memberikan sanjungan. “Salah satu lokasi finish sepeda terindah di dunia mungkin,” ungkap sosok yang pernah bersepeda di sejumlah spot menggetarkan iven sepeda dunia seperti Alpe d’Huez (Rute iconic Tour de France) dan Passo dello Stelvio (tanjakan kondang Giro d’Italia).

Silahkan Anda googling Alpe d’Huez dan Passo dello Stelvio. Keindahannya sungguh tiada tara. Bahasa travellernya: Breathtaking view (Pemandangan yang menakjubkan). Tapi toh Azrul tetap menyebut Linow dan Tetetana sebagai kepingan Indonesia yang memikat dan tak kalah memesona. Keren bukan?

Kalau di tanah air, saya kebetulan pernah ke Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Daerah yang begitu dibanggakan warga Minangkabau. Tidak jauh dari padang, ada di ketinggian, dingin dan tanahnya subur. Hampir-hampir mirip Tomohon. Hanya saja wisatawan yang berkunjung di daerah tersebut lebih spesifik karena sulit sekali mencari minuman internasional seperti bir. Turis bule tentu saja kurang klik dengan situasi itu. Berbeda dengan Tomohon yang aura pariwisatanya lebih liberal. Lebih bersenyawa dengan kebiasan bule yang akrab dengan bir dan sejenisnya. Keunggulan Bukit Tinggi boleh jadi soal historinya. Bung Hatta, Wapres ikonik di era kemerdekaan, lahir di sana. Saya sempat mampir di rumah bersejarah tersebut.

Jadi jelas sudah, keindahan Tomohon tak kalah wow dibanding daerah lain di Indonesia dan belahan dunia lainnya. Makanya warga Tomohon dan Sulut sudah sepantasnya bangga dengan hal ini. Beberapa kawan malah memberikan metafora lucu. Katanya Tuhan sedang tersenyum saat ‘membentuk’ Tomohon. Hehehe.

Soal kemudian bagaimana mengakselerasi kota kecil ini menjadi daerah tujuan wisata yang lebih kaliber, itu domain pemerintah dan beberapa sektor terkait. Mereka punya semua atribut untuk mewujudkan itu: Dana, rencana dan kuasa. Komplit. Soal visioner atau tidak, biar masyarakat yang membuat premis sendiri-sendiri. Selera orang berbeda-beda. Belum lagi kepentingannya (Anda boleh tersenyum).

Unggul dari aspek alam dan pariwisatanya, saya bermimpi Tomohon bisa menambah pundi keunggulan dari dimensi demokrasi substansial. Tidak berlebihan karena warga di Kota Pendidikan ini memiliki elemen yang konkrit untuk mewujudkan pemilih yang rasional dan objektif.

Supaya tidak retorika, mari bicara angka. Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) Tomohon, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Tomohon tahun 2021 kedua tertinggi di Sulawesi Utara. Angkanya 76,69 persen. Hanya terpaut 2 persen lebih dari Kota Manado, yang angkanya 78,93.

IPM sendiri secara umum merupakan alat ukur untuk mengetahui sudah sampai di mana pencapaian pembangunan pada aspek kualitas hidup manusia. IPM lasimnya mengukur tiga dimensi: Umur panjang dan hidup sehat (a long and healthy life), pengetahuan (Knowledge) serta standar hidup layak (Decent Standart of Living).

Malah untuk klasifikasi Indeks Pembangunan Gender (IPG), Tomohon menduduki peringkat tertinggi di Sulut dengan capaian 98,95 persen. IPG sendiri mengukur pencapaian dimensi dan variabel yang sama seperti IPM, tetapi mengungkapkan perbandingan pencapaian antara laki-laki dan perempuan.

Impian menuju demokrasi substansial memang tidak mudah. Tapi data-data tadi cukup memberi referensi bahwa masyarakat, khususnya pemilih, di Kota Tomohon memiliki karakteristik yang tepat untuk terus diedukasi menjadi pemilih yang rasional dan objektif saat kontestasi Pemilu dan Pilkada. Pemerintah, penyelenggara Pemilu, lebih khusus lagi peserta Pemilu (Parpol dan calon), semestinya jadi leading sector memberikan edukasi dan contoh konkrit di lapangan.

Demokrasi substansial sendiri secara sederhana ditandai dengan proses pemilihan yang bebas dari praktik politik uang, mobilisasi ASN dan politik identitas. Masih ada beberapa indikator lain, tapi minimal jika tiga hal ini tak terjadi di Pemilu dan Pilkada, demokrasi akan naik kelas. Dari prosedural ke substansial. Para pemimpin dipilih berdasarkan ide dan gagasan. Dengan begitu pemimpin punya ikatan moral dan emosional yang kuat dengan masyarakat. Semua detail program pembangunan dari berbagai aspek, muaranya untuk kesejahteraan warga. Sebaliknya Kalau setelah terpilih lupa dengan janji politik, hidup hedon, tak punya empati dengan kesusahan rakyat, korup atau memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri dan kelompok tertentu, siap-siap dihukum (Tidak dipilih) masyarakat di Pemilu-Pilkada berikut.

Tahapan Pemilu 2024 sudah berjalan. Berdasarkan konsensus bersama antara penyelenggara Pemilu, pemerintah dan DPR, pemungutan suara akan dilaksanakan 14 Februari 2024. Pilkada rencananya digelar November 2024. Kalau pemilih di Tomohon memaknai semua tahapan Pemilu dengan rasional dan objektif, demokrasi substansial niscaya terwujud. Kalau sudah begitu, tidak mengherankan nantinya jika banyak orang dari berbagai daerah datang belajar sekaligus pelesir di Tomohon karena ingin menyaksikan model wisata baru: Wisata demokrasi. (*)

Komentar