oleh

Bunda Rita dan Anak-anak Panti Asuhan Nobar Uti deng Keke di XXI Mantos 3

Sulut, KOMENTAR- Bunda Rita Tamuntuan bersama anak-anak panti asuhan nonton bareng (nobar) film Uti deng Keke di XXI Mantos 3, Manado, Selasa (22/11).
Puluhan anak-anak yang datang dari panti asuhan Dokter Lukas, panti asuhan Dokter Mulia dan panti asuhan Al Ikwan, mengaku sangat terhibur saat menyaksikan film garapan Gema Production tersebutt

Kegiatan Nonton Bareng Bunda Rita ini, merupakan rangkaian kegiatan memaknai acara Hari Anak Sedunia (HAS) 2022.
“Anak-anak tadi sangat senang menonton film Uti deng Keke ini,” kata Rita Dondokambey-Tamuntuan didampingi Sekretaris TP PKK Sulut yang juga Kepala Dinas P3AD Sulut, dr Kartika Devi Tanos.
Istri tercinta Gubernur Sulut ini menjelaskan, ajakan menonton film Uti deng Keke ini, supaya anak-anak terlebih generasi muda dapat memaknai kehidupan toleransi beragama.

“Sekaligus juga mengenal budaya daerah, khususnya Minahasa dan Gorontalo. Film yang sangat mengedukasi bagaimana memperlihatkan toleransi dan persahabatan,” jelasnya.
Beniqno Ogi, anak dari Panti Asuhan Dokter Lukas tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya usai menonton film tersebut.
Ia merasa gembira karena bisa nonton bareng bersama Bunda Rita Tamuntuan.
“Sangat senang bisa nonton langsung film ini di bioskop. Terima kasih Bunda Rita sudah mengajak kami bersama nonton bareng di Mantos. Ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan,” ujarnya.
Uti Deng Keke merupakan film terbaru yang mengisahkan tentang budaya Indonesia.
Film ini dipimpin oleh produser eksekutif Hartono Ko yang digarap apik oleh sutradara Billy Noval selama kurang lebih tiga tahun produksi.

Uti Deng Keke dibintangi Mongol Stres, Lana Victoria, dan beberapa aktor lokal asal Gorontalo seperti Didi Roa, Tanta Lala, hingga bupati Minahasa Utara Joune Ganda.
Film berlatar tempat yang ada di Gorontalo ini mengisahkan tentang persahabatan yang dijalani oleh dua remaja yang masih duduk di bangku SMA.
Dua sahabat tersebut sudah menjalin persahabatan sejak lama, dan uniknya mereka memiliki agama dan suku yang berbeda.
Film budaya ini akan mengulas kehidupan remaja di dua daerah berbeda sehingga kaya akan nilai-nilai adat dan kesatuan bangsa.
Selain kaya dengan nilai-nilai budaya, film ini juga sarat akan toleransi beragama yang dapat memberikan pelajaran lebih kepada para penonton.
Proses produksinya terbilang lama, namun syutingnya cukup cepat sehingga dapat segera dirilis.(*)

 

Komentar