BABIRUSA SATWA ENDEMIK SULAWESI YANG DILINDUNGI (Masih adakah daging Babirusa beredar di pasar Tradisional)

Penulis: Prof. Dr. Ir Hengki J. Kiroh, MS (Dosen Fakultas Peternakan Unsrat)

Sulawesi Utara (Sulut) memiliki banyak jenis satwa liar yang sangat tinggi keragamannya, dimana kurang lebih 70% dari 114 jenis satwa liar yang sudah diketahui keberadaannya adalah jenis-jenis langka dan endemik termasuk babirusa (Babyrousa babyrussa celebensis Deniger).

Babirusa ini merupakan plasma nutfah yang tiada terhingga nilainya, meskipun sudah hampir 60 tahun sebagai satwa yang dilindungi, namun status babirusa tetap saja dinyatakan dalam keadaan genting (endangered) .Hal ini merupakan suatu kenyataan yang sangat menyedihkan dan ini merupakan pertanda kurangnya kepedulian dari berbagai pihak untuk peduli terhadap kelestarian dari babirusa.

Kalau kita lihat sejak munculnya berbagai informasi bahwa di pulau Sulawesi hidup satwa liar yang namanya babirusa, maka para ahli biologi konservasi dan perhati lingkungan termasuk Selmier di tahun 1978 melakukan penelitianya dan Dia meninformasikan bahwa populasi babirusa diwilayah Sulawesi dan sekitarnya berkisar antara 3075-6150 ekor sedangakan pulau Togean terkenal dengan sebutan Babyrousa babyrussa togeanensis Sody populasinya berkisar antara 500-1000 ekor, tetapi populasi untuk dua spesies lainnya seperti Babyrousa babyrussa Linnaeus yang hidup di Pulau Sula dan Buru serta Babyrousa babyrussa celebensis Deniger sampai saat ini belum punya data yang akurat.

Dikuatirkan pemanfaatan hutan secara belebihan untuk kepentingan manusia akan ikut berdampak pada kerusakan habitat babirusa sehingga mempercepat laju kepunahannya, selain itu juga adanya perburuan liar dari kelompk-kelompok masyarakat tertentu yang tidak terkontrol ikut pula menyebabkan babirusa ini semakin langka, sehingga timbul pertanyaan apakah dalam keadaan sekarang ini babirusa masih tetap diburu dan dagingnya masih diperdagangkan dipasar-pasar tradisional di wilayah Kabupaten Minahasa dan sekitarnya, walaupun sudah ada UUD Konsevasi No.5/tahun 1990 yang mengaturnya.

Menurut (Kiroh, dkk, 2017 dan 2022) yang telah melakukan penelitian dalam bentuk survey lapangan kebeberapa pasar tradisional di wilayah Kabupaten Minahasa dan sekitarnya seperti pasar tradisional Tondano, pasar tradisional Remboken, pasar tradisional Kawangkoan, pasar tradisional Langowan dan pasar tradisional Tanawangko, ternyata dilapangan masih ditemukan masyarakat yang menjadi pemburu/penampung dan penjual serta pembeli daging babirusa yang masyarakat lakukan. Hasil kajian secara ilmiah dilapangan, menunjukan ada sekitar 38,33% masyarakat yang ditemui di wilayah Kabupaten Minahasa masih terjun sebagai penjual daging babirusa sedangkan msayarakat yang tergolong sebagai konsumen daging babirusa berkisar antara 16,66 sampai 66,66%.

Sehingga Tim peneliti bisa katakan bahwa sampai sekarang daging babirusa masih ditemukan di berbagai pasar tradisional diwilayah Kabupaten Minahasa dan sekitarnya. Hal ini menjadi pertanyaan dan tantangan bagi Pemerintah Daerah dan Para Peneliti satwa-satwa liar endemik Sulawesi Utara, karena masih beredarnya daging babirusa dipasar-pasar tradisional diwilayah Kabupaten Minahasa.
Penelitian Kiroh, dkk (2022) dilapangan di dapatkan informasi yang menarik dari masyarakat, dimana mereka mengatakan bahwa daging babirusa memiliki khasiat untuk tubuh bila dikonsumsi, sehingga salah satu faktor penyebab mereka masih tetap memburu/menangkap dan menjual daging babirusa dipasar-pasar tradisional yang ada diwilayah Kabupaten Minahasa. Jawaban masyarakat inilah membuat Tim peneliti Fakultas Peternakan Unsrat Manado, agak terkejut sehingga ingin melanjut penelitian ini dengan menguji kebenaran secara ilmiah lewat anlisa uji bioktif yang tujuannya untuk membuktikan apa benar daging babirusa mengandung zat-zat yang dapat meningkatkan vitalitas tubuh seperti adanya Steroid atau mungkin flavonoid dan Alkaloid didalam daging babirusa.

Bila ternyata informasi yang disampaikan oleh masyarakat itu benar, maka tentunya menjadi perhatian tersendiri bagi Pemerintah Daerah untuk menata kembali aturan-aturan hukum yang lebih ringan lagi berkaitan dengan konservasi babirusa dimana masyarakat dapat didik/dilatih untuk bagaimana melakukan teknik penangkaran dan budidaya yang tepat serta bagaimana menanamkan kepada mereka budaya untuk tidak mengambil babirusa dihabitat aslinya. Bila proses penangkaran dan budidaya yang dikerjakan oleh masyarakat yang telah dididik/dilatih dan berhasil, maka hasil tangkaran 30% harus dikembalikan lagi kehabitat aslinya dan 70% hasil tangkaran inilah yang bisa digunakan untuk menunjang pengembangan usaha masyarakat kecil mikro menengah, sehingga ada keseimbangan nilai manfaat satwa liar khususnya babirusa dalam rangka menunjang ekonomi masyarakat lewat berbagai usaha kecil termasuk makan khas kuliner Minahasa untuk ikut menunjang Pariwisata Sulut dan juga Ekonomi daerah.

Sebaliknya jika ternyata hasil Uji Bio Aktif tidak terbukti adanya kandungan zat-zat kimia seperti Streroid yang dapat meningkatkan kesehatan/vitalitas tubuh atau Alkaloid, dan flavonoid serta mungkin zat-zat yang lain, maka peraturan-peraturan yang berkaitan dengan konservasi satwa liar, khususnya babirusa harus lebih diperketat lagi agar satwa ini dapat hidup lestari dibumi nyiur melambai dan sekitarnya. Salah satu Ikon Satwa Endemik Sulawesi Utara yang mungkin bisa kita kembangkan untuk dijadikan ekowisa desa atau pulau berbasis satwa-satwa endemik termasuk didalamnya babirusa (Babyrousa babyrussa celebensis Deninger) yang ada diwilayah Sulawesi Utara. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya konservasi yang juga berfungsi sebagai pusat penelitian dunia, pendidikan/pelatihan, pusat rekreasi dan budaya. Disisi lain dari hasil wawancara dengan masyarakat yang ada diwilayah Kabupaten Minahasa dan sekitarnya memberi gambaran bahwa di masyarakat ternyata yang berumur diatas 50 tahun tidak begitu peduli dengan komposisi zat-zat gizi yang terkadung dalam daging babirusa, karena bagi mereka diusia 50 tahun keatas sudah sangat terbatas bagi tubuh dalam mengubahnya ke hal-hal fisiologis, ditambah pula terbatasnya gerakan/aktivitas mereka.

Di pasar tradisional yang ada di wilayah Kabupaten Minahasa dari hasil penelitian Kiroh, dkk (2022) ditemukan sekitar 78% rata-rata jenis kelamin laki-laki yang banyak berkunjung dipasar tradisional untuk mencari daging babirusa dan hanya 22% perempuan yang sudah berumah tangga. Kegiatan ini dilakukan oleh masyarakat pembeli/konsumen secara sembunyi-sembunyi, dimana mereka ini mencari dan membeli daging babirusa yang adalah satwa dilindungi oleh UUD konservasi serta rata-rata dari mereka sudah mengetahuinya.
Memang pemahaman masyarakat terhadap nilai konservasi satwa endemik yang dilindungi merupakan konsekuensi positif terhadap pemahaman suatu kehidupan satwa, dimana kalau tidak kita beri bobot ilmiah melalui pemanfaatan secara lestari yang telah dipahami oleh masyarakat, maka semuanya akan menuju pada kepunahan. Nilai pemahaman masyarakat tidak terlepas dari salah satu faktor yaitu pendidikan yang mereka jalani, karena pendidikan formal ikut mempengaruhi cara berfikir dan bertindak seseorang.

Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat pemahaman terhadap nilai konservasi satwa endemik di Kabupaten Minahasa sangat bervariasi, hal ini diduga terkait juga dengan mata pencaharian mereka yang tidak tetap sehingga tawaran untuk menjadi pemburu/penangkap, pengumpul/penjual daging satwa-satwa liar yang dilindungi tidaklah menjadi sesuatu yang menakutkan bagi mereka walaupun hukumannya terhadap pelaku cukup berat. Gambaran situasi yang ditemukan dilapangan dipasar-pasar tradisional ini diperkuat dari hasil penelitian Kiroh, dkk (2022) yang menunjukan bahwa dipasar tradisional Langowan masyarakat yang menjadi pemburu/penangkap satwa liar endemik mencapai 50% dan pengumpul/penjual mencapai 66,66% serta sebagai konsumen tetap mencapai 100%. Kondisi seperti ini juga terlihat di pasar tradisional Kawangkoan dimana masyarakat sebagai pemburu/penangkap mencapai 41,66% dan 50% mereka berprofesi sebagai pengumpul/penjual serta konsumen tetap 66,67%. Tim peneliti melakukan juga penelitian survey sampai dipasar tradisional Tanawangko disana ditemukan masyarakat yang berprofesi sebagai pemburu/penangkap mencapai 33,33% sedangakan sebagai penampung/penjual mencapai 25% dan masyarakat sebagai konsumen tetap ada sekitar 83,33%. Begitu pula yang ditemui dipasar tradisional Tondano ada sekitar 25% masyarakat berprofesi sebagai pemburu/penangkap, sedangkan 16,66% masyarakat berprofesi sebagai pengumpul/penjual namun masyarakat sebagai pembeli daging babirusa mencapai 75%. Gambaran-gambaran yang demikian terlihat juga dipasar tradisional Remboken dimana ditemukan ada sekitar 25% masyarakatnya berprofesi sebagai pemburu/penangkap, sedangkan berprofesi sebagai penanmpung/penjual mencapai juga 25% dan masyarakat sebagai konsumen tetap mencapai 58,33%.

Nampaknya sangat bervariasi profesi yang dijalani/ditekuni masyarakat diwilayah Kabupaten Minahasa, dan salah satu faktor penyebabnya adalah akibat permintaan daging babirusa yang kadang-kadang meningkat disaat adanya pesta keluarga/pengucapan syukur gerejawi serta dilain pihak disebabkan desakan ekonomi keluarga sehingga mendorong sebagian masyarakat diwilayah Kabupaten Minahasa beralih profesi dari petani menjadi pemburu/penangkap dan pengumpul/penjual daging babirusa dan daging satwa liar lainnya untuk menopang ekonomi keluarga mereka.

Tim peneliti Kiroh, dkk (2022) menggali terus informasi-informasi dimasyarakat yang ada di wilayah Kabupaten Minahasa dan sekitarnya terkait sejauhmana tingkat pengetahuan masyarkat terhadap kualitas fisik daging babirusa seperti pemahaman tentang warna daging, aroma daging, tekstur daging, cita rasa, keempukan daging, tingkat kesukaan dan juga alasan mengapa masyarakat merasa senang mengkonsumsi daging babirusa. Hasil penelitian menunjukan bahwa 94% masyarakat mengatakan daging babirusa sangat berbau khas daging . Sehingga dapatlah dikatakan bahwa masyarakat diwilayah Kabupaten Minahasa yang berprofesi sebagai pemburu dan konsumen daging babirusa sudah memiliki kemampuan tersendiri dalam memberi informasi tentang aroma daging babirusa. Di sisi lain ditemukan dilapangan ada sekitar 68% masyarakat waktu diwawancarai mengatakan bahwa daging babirusa teksturnya kasar dan 22% mengatakan tekturnya agak kasar serta hanya sekitar 10% dari masyarakat yang mengatakan daging babirusa teksturnya halus. Hal lain yang cukup menarik dari hasil wawancara di masyarakat dimana 90% dari mereka mengatakan bahwa daging babirusa itu sangat enak dan hanya 10% masyarakat yang mengatakan dagingnya enak, serta 76% dari masyarakat mengatakan daging babirusa itu empuk dan hanya 10% masyarakat mengatakan dagingnya sedikit empuk dan 14%nya mengatakan dagingnya sangat empuk.

Banyak hal juga yang coba digali dimasyarakat terhadap daging babirusa ini seperti halnya tentang kesukaan daging babirusa, ada sekitar 84% masyarakat mengatakan mereka sangat suka dengan daging babirusa dan yang kategori suka terhadap daging babirusa hanya 16%. Sebagai pembanding terhadap informasi yang diperoleh dilapangan, maka telah pula dilakukan uji sensoris daging babirusa, dimana kegiatan ini dilakukan di Laboratorium Tekonologi Hasil Ternak di Fakultas Peternakan Unsrat Manado, karena mengacuh pada apa yang disampaikan oleh Soeparno (2005) yang mengatakan uji paling pokok dari penilaian kualitas daging adalah tingkat penerimaan (akseptabilitas) konsumen. Hal ini sangat tergantung pada respon psikologis dan panca indra yang sangat unik bagi setiap individu.

Hasil tulisan ini telah dikaji lewat tahapan-tahapan penelitian baik langsung dilapangan dan membandingkan hasil uji laboratorium, maka dapatlah dikatakan bahwa daging babirusa masih ditemui dipasar-pasar tradisional wilayah Kabupaten Minahasa dan sekitarnya, dimana sangat tinggi keinginan masyarakat yang berusia dibawah 50 tahun dengan jenis kelamin laki-laki dibanding perempuan serta tingkat pendidikan tertinggi adalah sekolah dasar dengan mata pencaharian sebagai petani. Tim peneliti Fakultas Peternakan bulan Nopember tahun 2022 telah menemukan data lapangan bahwa daging babirusa masih beredar dipasar Tradisional.

Tim peneliti juga telah melakukan Uji sensoris daging babirusa yang dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan Unsrat Manado sebagai pembanding hasil wawancara dengan masyarakat terhadap daging babirusa, dimana hasil yang di dapatkan bahwa daging babirusa memang sangat menarik, aromanya ,sangat khas dagingnya dan teksturnya kasar, citarasanya sangat enak, nilai keempukannya yang cukup tinggi. Hal itulah yang membuat masyarakat saat ditanyakan mengatakan sangat suka dengan daging babirusa dan ditambah juga dari sisi pemahaman mereka bahwa daging babirusa memiliki khasiat tersendiri.
Terbukti bahwa hasil uji sensoris memberi gambaran bahwa warna daging babirusa itu menarik, teksturnya halus, aromanya yang khas berbau daging, citarasa dagingnya empuk, agak berminyak. Untuk mendapatkan hasill yang lebih baik lagi terutama yang berkaitan dengan uji bio aktif daging babirusa, maka perlu adanya kolaborasi keilmuan dengan berbagai bidang ilmu untuk mengkaji serta mengetahui secara komprehensif termasuk didalamnya nilai-nilai konservasi babirusa (Babyrousa babyrussa celebensis Deninger) sebagai satwa endemik Sulawesi Utara. Hal ini perlu di dukung lewat kebijakan-kebijakan Pemerintah Daerah melalui PERDA yang saling menguntungkan baik Pemerintah itu sendiri maupun Masyarakat yang ada diwilayah Kabupaten Minahasa dan sekitar agar nilai manfaat dari satwa liar khususnya babirusa dapat di tata secara berimbang sehingga kelestarianya dapat tercapai.

Bahan bacaan:
Kiroh, H.J, I. Wahyuni. F. S, Ratulangi, S. C. Rimbing. 2017. Kajian Pemotongan Babirusa (Babyrousa babyrussa) sebagai Satwa Endemik Sulawesi Utara pada Beberapa pasar Tradisional di Kabupaten Minahasa, Fakultas Peternakan Unsrat, Manado.
Kiroh, H. J., R.M. Keintjem., J.H. Manopo. 2022. Akseptabilitas Masyarakat Terhadap Daging Babirusa (Babyrousa babyrussa celebansis Deninger) Di Pasar Tradisional Langowan Kabupaten Minahasa, Fakultas Peternakan Unsrat, Manado.
Selmier, V. J. 1978. Only in Indonesia. The Babirusa, Unpublish Report to LIPI and PPA Indonesia.
Soeparno, 2005. Ilmu dan Teknologi Daging Cetakan IV. Gadjah Mada University Press. Jogyakarta.(ist/)

Komentar