Selesaikan Polemik Pembangunan Masjid dan Bantu Rp 500 Juta, Nasionalisme Bupati Mitra Viral

Ratahan, KOMENTAR

Ketika di daerah tertentu ada perlakuan diskriminatif bagi kaum minoritas, termasuk dengan penutupan rumah ibadah atau pelarangan pembangunan tumah ibadah, tidak demikian dengan Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra). Komitmen dan sikap nasionalisme dari Kepala Daerah yakni Bupati James Sumendap SH MH, membuat daerah tersebut jauh dari kesan dikotomi minoritas dan mayoritas.

Bukti paling sahih atas nasionalisme dan komitmen Bupati itu adalah kemampuannya menyelesaikan polemik pembangunan Masjid di Molompar Dua Utara Kecamatan Tombatu Timur yang telah berlangsung selama sekian tahun. Tak sekadar menyelesaikan polemik itu, Bupati bahkan memberikan sumbangan untuk pembangunan Masjid yang diberi nama Masjid Al-Ikhsan, senilai Rp 500 juta.

Tak pelak, apa yang ditunjukkan Bupati ini kemudian viral di jagad media sosial, dan bahkan dalam salah satu tayangan disebutkan bahwa apa yang dilakukan Bupati Mitra telah menjadi sumber referensi peletakan nilai-nilai toleransi dan nasionalisme di daerah lain yang masih menggaungkan semangat mayoritas dan minoritas.

Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al-Ikhsan Molompar Dua Utara ini telah dilakukan beberapa waktu lalu usai Bupati memfasilitasi penyelesaian polemik ini dengan mempertemukan semua pihak yang bersilang sengketa. Sementara penyaluran bantuan Rp 500 juta itu sendiri direalisasikan pada akhir pekan kemarin.

“Tidak yang tidak bisa diselesaikan. Sepanjang kita diberi hikmah oleh Tuhan, maka penyelesaian tidak perlu dengan konflik. Karena di Kabupaten Mitra tidak mengenal adanya mayoritas atau minoritas. Yang ada di Kabupaten Mitra adalah taman mini persaudaraan dan kerukunan,” kata Bupati.

Ia menyampaikan, pada 2023 ini Pemkab bahkan akan membanguna tiga monumen persaudaaran yang hendak menunjukkan kepada semua kalangan bahwa masyarakat Kabupaten Mitra hidup dalam kerukunan, persaudaraan, dan persatuan. “Tinggal bagaimana dari pemuka agama untuk menangkal masuknya ajaran-ajaran yang tidak sesuai yang berpotensi memecah belah apa yang selama ini kita jaga bersama,” sebutnya.

Bupati sendiri diberi kehormatan memberikan nama terhadap Masjid yang sementara dibangun dan ia memilih nama Al-Ikhsan. Dan ternyata nama ini ada sejarahnya, di mana Bupati memiliki leluhur yang namanya adalah Ikhsan Sumendap, seorang muslim yang taat dan sempat menjadi pejabat teras di Pandeglang Jawa Timur, mulai jadi Ketua DPRD sampai jadi Bupati.

“Cuma karena di Jawa maka yang ditonjolkan adalah yang Ikhsan. Jadi saya bukan Bupati pertama bermarga Sumendap, melainkan saudara dari opa saya. Sekarang beliau sudah almarhum dan dimakamkan di taman makam Pahlawan Pandeglang, tetapi anak cucunya ada di Pandeglang tinggal dalam satu kompleks. Jadi nama Al-Ikhsan ini ada sejarahnya,” terangnya.

“Tetapi saya ingin kembali memegaskan yang paling penting adalah kita harus menjaga kerukunan, persaudaraan, dan persatuan. Baku-baku bae samua,” sebutnya.

Dalam kesempatan penyaluran bantuan hibah Rp 500 juta ini juga lengkap diserahkan dokumen administrasi pembangunan berupa sertifikat tanah, Ijin Mendirikan Bangunan, Rekomendasi Kementerian Agama, Rekomendasi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, serta Rekomendasi Forum Kerjasama Umat Beragama.

Hadir Wakil Bupati Drs Jesaja JO Legi, Sekda David Lalandos AP MM dan para pejabat Pemkab Mitra, pemuka agama Islam, Ketua MUI Kabupaten Mitra, Ketua SI Kabupaten Mitra, tokoh muslim, tokoh agama, serta jemaah dan masyarakat setempat.(ftj)

Komentar