Pemilu 2024 Sulit Terhindar Hoax, Liando : Ada Tiga Peristiwa Besar Jika tak Dicegah

Manado, KOMENTAR-Momen pemilihan umum (Pemilu) 2024 jadi atensi banyak pihak. Sebab, tak jarang masyarakat disuguhi berbagai informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Pengamat politik Ferry Daud Liando, menilai Pemilu 2024 kemungkinan besar akan sulit terhindar dari dinamika hoax atau penyebaran berita bohong. Menurutnya, Jika penyebaran hoax tidak dicegah maka ada 3 peristiwa besar yang kemungkinan akan terjadi.

“Pertama potensi akan terjadinya konflik. Baik konflik antar peserta, konflik antar pendukung maupun konflik sosial di masyarakat. Konflik bisa terjadi karena proses politik adu domba atau propaganda akibat hoax,” kata Liando dalam FGD Strategi Mencegah Hoax yang digelar Intelkam Polda Sulut, Jumat (01/12) di Manado.

Kedua, kata Liando, jika tidak di cegah maka berpotensi adanya delegitimasi hasil pemilu. Hal ini akan berbahaya, karena bisa saja pendukung atau tim pemenangan dari calon yang kalah akan membuat perhitutungan atas kekalahannya itu.

“Jikapun hasil pemilu dapat di terima, namun dukungan atas pemerintahan yang berkuasa sangat lemah akibat keyakinan masyarakat yang keliru karena penyebaran berita hoax, ” ujarnya.

Menurutnya, jika hoax tidak dicegah bisa jadi akan mempengaruhi pilihan publik atas salah satu calon. “Calon yang baik akan di anggap buruk. Pemilu yang seharunya bertujuan terpilihnya orang-orang baik maka, hoax akan mengubah terpilihnya calon-calon yang tidak baik, ” beber Liando dalam diskusi.

Ketiga, kata Liando, opini pemilih terhadap calon sehingga tidak dipilih. “Sebaliknya calon yang buruk akan dinilai baik sehingga mempengaruhi pilihan publik, ” terangnya.

Lanjut di Akademisi Unsrat ini memaparkan, terdapat empat pemicu terjadinya penyebaran berita hoax. “Pertama adanya kepentingan politik, “kata Liando.

Menurutnya, pemilu adalah kontestasi atau kompetisi. Sehingga semua peserta berusaha untuk menang. Banyak kandidat akan berusaha menghalalkan segala cara termasuk menyebarkan berita bohong.

“Kandidat yang dianggap memiliki banyak pendukung berpotensi menjadi sasaran informasi hoax. Banyak calon yang akan menggunakan metode black campaign untuk meruntuhkan kekuatan pesaing,” ungkap Liando.

Kedua ungkap Liando, karena kepentingan keuntungan bisnis. Semakin banyak pihak yang merespon postingan berita bohong maka akan menguntungkan pemilih media sosial.

“Selama ini banyak pihak yang diuntungkan dengan beirita-berita bohong sehingga berita-berita tersebut digandakan melalui penyebaran dalam berbagai aplikasi media sosial atau konten, ” katanya.

Ketiga, berita bohong menyebar karena ada media yang dimanfaatkan untuk penyebaraannya. Karna, hampir 80 persen pemilih menggunakan informasi melalui media sosial.

“Keempat karena ada pasar atau penerima manfaat baik utk pengetahuan sendiri atau bahan utk di sebar. Tidak mungkin hoax akan berkembang jika tidak ada pihak yang membutuhkan. Karena pihak yang membutuhkan banyak, maka produksi hoax terus berkembang setiap saat terutama pada tahapan pemilu, ” beber Liando.

Salah satu cara untuk mencegah adalah penegakan hukum. “Jika para pelaku kejahatan penyebaran berita hoax tidak di tindaki maka perbuatan ini akan terus berkembang, ” tegasnya.(bly)

Komentar